Sebenarnya saya bukan termasuk penggila film asia, dari sejarahnya (hayah) saya lebih ke western movie oriented. Hollywood bagi saya adalah level tertinggi dari kelas film di dunia walaupun saya mengakui memang ada beberapa film asia yang saya bilang jempol dua lah. Meskipun saya agak pemilih, tapi saya masih bisa menikmati film-film asia yang memang bagus.

Train_To_Busan-p2

Saya bukan penggemar film korea. Tidak ada satupun film produksi korea yang bisa bikin saya sampe sukaaaa banget dan puas banget setelah menontonnya. Meskipun ada beberapa film yang bisa saya nikmati, tapi saya tidak pernah merekomendasikan film-film tersebut kepada teman-teman ataupun saya masukkan di daftar film favorit sepanjang hidup lol. Film korea secara umum menurut saya hanya bagus jika lebih fokus ke aspek dramanya, internal konflik yang tidak banyak melibatkan aksi menantang. (Kalo drama beda lagi yah, lebih intens, lebih panjang juga, lebih lelah nontonnya hahaha tapi worth it sih). Biasanya film korea bagus di dramanya, tidak begitu memuaskan di action, atau bagus di action, kurang greget di dramanya.. pokoknya bagi saya selalu saja ada yang kurang. Tapi memang kalau ngomongin film drama, saya jamin film-film korea selalu bisa bikin kita baper dan nangis yang berkepanjangan. Bahkan film jepang saja belum ada yang bisa bikin saya sebaper ketika nonton film korea hahaha.

Bu-San-Haeng-Train-to-Busan--1000x600

Saya di sisi lain, punya ketertarikan yang agak aneh dengan film bertemakan zombie apocalypse. Sebelumnnya, saya sangat membenci horror dan sangat tidak suka dengan ide tentang Zombie. Saya pikir zombie sangat tidak logis dan benar-benar niatnya cuman nakut-nakutan, bikin orang kaget aja, nggak ada esensinya. Tapi beberapa tahun terakhir pemikiran tersebut berubah setelah menonton drama seri “The Walking Dead”, Film “I am Legend” dan “The World War Z”. Dari situ, kemudian saya mulai bisa menikmati film-film bertemakan Zombie seperti “Resident Evil”, “28 Days Later”, atau “Dawn of The Dead”.

Waktu liat trailer Train to Busan bulan lalu di twitter, saya langsung tertarik untuk nonton. Walopun ada sedikit keraguan karena film ini tidak diproduksi Hollywood. Saya selalu saja ragu jika ada film action yang tidak diproduksi Hollywood. Kebiasaan judmental yang jelek sebenarnya, karena beberapa kali saya juga selalu dibuat takjub oleh film-film non-Hollywood. Cuman karena kurang PD aja ya, tidak pernah saya berharap banyak kalau film nya bukan produksi Hollywood. Jadi waktu itu, ya pengen sih pengen nonton tapi itu juga kalau ada temennya haha. Jadi nggak yang ngebet banget gitu sih.

maxresdefault

Waktu teman ngajakin nonton, saya untungnya sudah tau itu film tentang apa.. jadi nggak perlu dijelasin sama temen. Saya oke sajah. Santai, nggak terlalu excited tapi cukup mengantisipasi juga.

Plot Train To Busan ini sebenarnya nggak jauh beda dengan film-film zombie apocalypse yang pernah ada. Penduduk terjangkit virus yang membuat mereka menjadi zombie. Ketika sudah begitu, apa yang bisa lakukan selain bertahan hidup? Memang klise sih, tapi.. oh ayolah, cerita zombie apocalypse mana sih yang nggak kayak gitu? Sesederhana itu ceritanya, tapi juga serumit itu juga masalahnya.

Plotnya sangat sederhana, Train To Busan menceritakan tentang kisah Seok-woo, seorang Duda beranak satu yang mengantarkan putrinya, Soo-ahn menuju Busan menggunakan kereta cepat untuk menemui Ibu kandungnya. Kejadian mengerikan terjadi ketika salah seorang penumpang yang sudah terjangkit virus masuk ke dalam kereta dan mengubah penumpang kereta menjadi sekumpulan zombie. Cerita ini fokus tentang bagaimana ayah dan anak ini dapat bertahan hidup di tengah teror zombie di dalam kereta.

MoviesLA_TrainToBusan1

Kalau sudah pernah nonton The World war Z, pasti ingat donk adegan teror zombie di dalam pesawat. Saya ingat ketika menonton adegan itu, I almost couldnt chill. Saya deg-degan, bagaimana mereka bisa keluar dari pesawat untuk menyelamatkan diri? Mereka di udara, keluar mati, di dalam jadi zombie. Train To Busan hampir mirip keadaannya seperti adegan tersebut, bedanya ini mereka di dalam kereta yang melaju kencang. Tetep aja je bikin deg-degan.

Waktu nonton film ini, saya tidak bisa tenang. Jangankan bisa duduk santai, berkali-kali saya sampai harus membenamkan di kursi saking takut dan cemasnya melihat apa yang akan terjadi pada karakter-karakter penting di film tersebut. Berkali-kali saya berteriak kaget karena zombie yang tiba-tiba muncul. Keselnya, Zombienya tu bisa lari macam atlet kencenk lah bener-bener bikin  tegang deg-degan. Adrenalin dipacu naik turun ga kekontrol haha. Untungnya, bukan cuman saya saja di studio bioskop yang mencak-mencak di kursinya nonton film ini. Hampir semua memiliki reaksi yang sama. Frustasi, tegang, cemas, takut, emosional haha. Pisuhan demi pisuhan dilontarkan saking tegang dan suspens-nya jalan cerita.

Alih-alih karakter Seok-woo dan putrinya, kita juga akan dikenalkan oleh beberapa karakter penting yang tidak kalah berperannya di film ini. Mereka adalah Seong-kyeong, seorang perempuan hamil bersama suaminya. Young-guk, pelajar SMA yang juga anggota klub baseball bersama teman-temannya dan Jin-hee, cheerleader tim baseball sekolahnya yang juga sedang menuju Busan untuk kompetisi baseball antar sekolah, dan beberapa karakter penting yang tidak bisa kita acuhkan di film ini.

jung

Ini bukan film tentang protagonist, antagonist, mana yang baik, mana yang jahat. Kita akan dibuat sadar kalau mereka cuma manusia lemah, dimana dalam kelemahan itu kita dapat mempertanyakan tentang sisi kemanusiaan yang masih dimiliki. Semua orang ingin hidup, semua orang ingin selamat, masalahnya ketika kita tahu posisi kita dalam bahaya, kita masih diingatkan hal-hal sederhana tentang bagaimana kita sangat menyayangi orang-orang terdekat kita, dan sejauh apa kita mampu berkorban untuk mereka.

Film ini nggak melulu tentang horror dan adegan ngaget-ngagetinnya. Tapi as expected from Korea, dramanya! Eits, jangan mentang-mentang saya bilang ada dramanya terus langsung jadi pada ilfil. Drama disini sangat penting perannya untuk membuat semua tindakan, aksi dan kejadian lebih bermakna. Porsi dramanya pun pas, nggak lebay nggak kurang. Bikin baper iya, bikin kita masih merasa seperti manusia, iya juga.

Jujur saya sebenernya nggak hafal sama nama-nama yang ada di film ini, tidak perlu juga sih menghafal namanya. Karakter yang dipegang sangat kuat sehingga kita bisa sangat mengenali mereka tanpa harus menghafal nama mereka. Akan ada banyak karakter yang kita harap terus bertahan hidup sampai akhir, dan beberapa karakter yang kita harap mati saja karena keberadaannya cukup banyak merugikan banyak nyawa. Terlepas dari itu, kembali lagi kita akan dibuat merenungkan kembali pilihan hidup, penyesalan-penyesalan apa saja yang pernah dirasakan sebagai manusia, dan larut dalam kepedihan melihat orang-orang yang kita rasa penting bagi kita harus mengalami teror tersebut. Bener-bener uji nyali dan psikologi banget deh.

train-to-busan-trailer-001

Yang pasti, film ini sangat tidak dapat diprediksi, kalaupun bisa, kita tetap tidak bisa memprediksi bagaimana si A mencapai ke titik B, atau rencana C dan D. Semuanya serba cepat, dan benar-benar menggantungkan situasi keadaan sekitar.

Film ini disutradarai oleh Yeon Sang-ho, seorang yang sebenarnya lebih banyak berkarya di film-film animasi (the king of pigs–2011, the fake-2013). Umurnya masih sangat muda, yaitu 38 tahun. Karya-karya sering terinspirasi oleh sineas animasi Hayao Miyazaki, seorang sutradara asal jepang yang kita kenal lewat film-filmnya Ghibli-nya. Film Train to Busan adalah film debut pertama yang dia sutradarai dalam bentuk live action, bukan animasi. Tapi hasilnya sungguh luar biasa, Saya lihat film Train To Busan juga hampir tanpa cela. Cinematography nya, visual effect nya, semuanya mantap! Saya sampai terkagum-kagum. Nampak sangat-sangat real.

Train to Busan sebenarnya adalah sequel dari film animasi “Seoul Station” (2016) memang tidak ada hubungannya dari segi karakter, tapi Seoul Station memiliki setting dan background cerita yang sama dengan Train To Busan.  Seoul Station juga disutradarai oleh Yeon Sang-ho.

Seoul-Station_poster_goldposter_com_4.jpg@0o_0l_400w_70q

Jika film Zombie Apocalypse the World War Z berbudget 540 juta dollar, I am a Legend berbudget 150 juta dollar, Resident Evil 250 juta dollar, film Train to Busan cuman modal 182,000 ribu dollar sajah. Tapi suguhan aksi, bobot cerita dan visual yang diberikan nggak murahan dan terbilang menjanjikan. Korea Daebak!

Dari segi rating, Train To Busan mendapat 8/10 di IMDB (which is awesome enough untuk IMDB kasih nilai segitu) dan 93% dari Rotten Tomatoes. Wow banget  karena Rotten Tomatoes ini tergolong benar2 pelit dan sangat jujur dalam mengkritik film.

Make up bisa dibilang cukup bikin saya wow lagi, kalau kita lihat zombie di film lain-lain cuman bisa raawrr aargghh blah disini zombienya terlihat realistis dan benar-benar mengerikan. Mereka nggak cuman raawrr sama aaarggh aja tapi juga agresif. Pokoknya ngeri banget!

train_to_busan_h_2016

Secara keseluruhan, saya kasih score 9,8/10 untuk film ini.  Mungkin bisa dikatakan ini adalah film terbaik yang pernah saya tonton sepanjang 2016. Diluar ekspektasi, scriptnya bagus, actingnya bagus, visual effect bagus, kostum, make up  nya juga bagus, hampir tiada cela. Saya orangnya suka banget nyari-nyari kejelekan suatu film, tapi disini saya benar-benar dibuat kalut. Bahkan sampai saya pulang pun saya masih memikirkan film tersebut.

Yang lucu adalah ketika ending, saya nangis. Tanpa memberikan spoiler yang berlebihan, film ini membuat saya sadar pentingnya pengorbanan dan pedihnya harus mengalami teror seperti itu. Jadi ketika lampu sudah nyala, saya masih di kursi cecegukan nangis nggak karuan, sampai teman saya ketawa liat saya larut dalam kebaperan lol. Perasaan ketika melihat endingnya, sedih dan lega. Saya tidak bilang ini happy ending, tapi nggak sad ending juga, tapi nggak nggantung juga. Eksekusi ending  yang cukup, tidak berlebihan, tapi nggak bikin penasaran juga. Kalau ada terusannya, saya nggak akan tega untuk menontonnya. Jadi cukup sampai disitu saja, dan saya puas.

Kalau suka film dengan tema Zombie Apocalypse, pengen uji adrenalin dan pengen emosinya dibuat terkoyak-koyak dan siap untuk dibuat baper, segera tonton film Train To Busan mumpung masih diputer di bioskop-bioskop tanah air. Film ini sih diputer di CGV-Blitz. Bagi yang di kotanya sudah ada Blitz, bersyukurlah karena kamu bisa langsung datang kesana. Ya, maksudnya dibandingkan dengan film-film barat yang juga sedang tayang sekarang, lebih worth it nonton ini. Jika belum ada kesempatan nonton, mungkin harus nunggu tahun depan untuk versi DVD Bluray nya.

kalau belum sempet nonton trailernya, silahkan klik link di bawah ini, biar makin penasaran hehe

 

Selamat menonton! saya habis ini mau nonton lagi, bye! *off menuju bioskop*

Advertisements