Ngomongin Jawa, tidak bisa mengabaikan salah satu kota yang dalam 10 tahun terakhir berkembang pesat menjadi kota industri dan perdagangan di Jawa Tengah. Yup, apalagi kalau bukan Semarang. Kota yang memiliki jargon “the variety of culture” ini selalu menjadi ketertarikan sendiri untukku. Sejak lama, aku memang pingin banget berkunjung ke Semarang. Ada sih beberapa temen bahkan keluarga yang nanya “emang ada apaan di Semarang?”. Oh, well… you wouldn’t know if you never visit it, would you? Haha. Sebenarnya lebih dari itu. Kota Semarang memiliki akulturasi budaya Jawa-Cina yang kuat dan inilah kenapa aku pingin banget jalan-jalan disini. Mulai dari pasar semawis, Klenteng Sam Po Kong, kota tua, Lawang Sewu, dan banyak lagi. Lebih kepada wisata sejarah dan budaya. And Hell Yeah, I’m so on it!!

Dengan modal nekad dan berfikir bahwa “kalau ga berangkat, nggak akan pernah jadi”, akhirnya kuputuskan untuk booking tiket bis menuju kota semarang saat akhir pekan. Aku bukan anak yang hobi naik bis tapi kalau ke Semarang banyak yang rekomendasi naik Bis. Selain lebih murah, aksesnya lebih mudah dibandingkan naik kereta. Setelah ngecek-ngecek peta, mengestimasi waktu dsb, aku akhirnya pesan tiket bis via aplikasi redbus. Kalau aplikasi semacam traveloka gitu kan belum ada jasa untuk transportasi bis ya, nah di redbus ini khusus untuk mereka yang ingin bepergian naik bis atau travel dengan aman serta tahu jadwal keberangkatan bis/travel antar kota. Ini sangat membantu buat aku yang tidak pernah naik bis antar kota. Aku jadi tahu jadwal keberangkatan bis, di pool mana saja, harga dan jadwalnya. Semua lengkap deh. Jadi nggak perlu jauh-jauh ke terminal dan tanya jadwal kekeke~ cara pembayarannya pun mudah, yaitu via transfer. Kalau punya aplikasi mobile bank/e-banking ini tentu saja sangat mudah. Sambil gegoleran di kasur pun bisa langsung dapat tiket lol

Perjalanan menggunakan Bis tidak memakan waktu lama, yah kira-kira 2,5 jam lah. Perlu diingat meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke Semarang tapi itu pertama kalinya aku traveling ke Semarang sendirian. Kalau dipikir-pikir serem juga sih ya but Well, I’m used to walk alone so yeah, yang penting nggak neko-neko aja. Aku naik Bis Nusantara Trasindo habis subuh, berangkat dari terminal Jombor Jogjakarta, turun di agen bis nya di daerah sukun. Sampai disitu kira-kira jam 9 pagi. Turun disitu aku sudah melihat banyak abang-abang gojek. Aku langsung gembira karena memang abang-abang gojek inilah yang mampu mengantar aku ke tempat-tempat yang ingin aku kunjungi di Semarang. Kalau naik angkot aku gatau rutenya hahahaha. Oke, beberapa tempat di Semarang yang aku kunjungi secara berurutan:

Day 1

Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Po Kong
Agenda kunjungan pertamaku donk, apalagi kalau bukan Klenteng Sam Poo Kong, salah satu ikon Kota Semarang yang dibanggakan. Konon ini juga klenteng yang paling tua di Semarang. Destinasi ini menjadi destinasi pertama karena lokasinya searah menuju pusat kota. Klenteng Sam Po Kong adalah tempat bersejarah yang dibangun untuk mengenang Laksamana Cheng Ho yang sempat berlabuh di Utara Jawa. Sam Po Kong sendiri secara harafiah berarti “orang yang dimuliakan” dan memang Klenteng ini petilasan akan sejarah laksamada Cheng Ho tadi. Oke tapi emang laksamana Cheng Ho itu siapa sih kak? Laksama Cheng Ho ini adalah seorang pelaut dan penjelajah utusan Kaisar Dinasti Ming dari Tiongkok terkenal yang telah melakukan penjelajahan dan melakukan misi perdagangan di Asia dan Afrika antara tahun 1405 hingga 1433. Jadi om Cheng Ho ini dulunya seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (yang berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Laksamana ini berasal dari provinsi Yunnan. Beliau seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam. Jadi Laksamana Cheng Ho Islam donk? Iya. Kalau kamu ke Klenteng Batu, kamu akan melihat relief kisah Laksaman Cheng Ho dan berdasarkan cerita si penjaga Klenteng, ada satu diorama relief yang dia tunjukkan menjelaskan bahwa orangtua Laksamana Cheng Ho naik haji. Wow!

Gedung Batu

Loh, kalau Islam kenapa yang dibangun bukan Masjid tapi Klenteng? Hoho, jadi begini. Klenteng ini dipercaya dibangun pertama kali pada tahun 1724 atau sekitar hampir kira-kira 300 tahun yang lalu. Baru pada tahun 2002-2005 dilakukan renovasi besar-besaran sehingga menjadi Klenteng yang bisa kita kunjungi seperti sekarang ini. Dilontarkan dari berbagai sumber, kedatangan Cheng Ho berlabuh di Semarang disambut oleh umat Kong Hu Cu dan pedagang Cina kala itu. Sehingga, mereka lebih menonjolkan budaya dan ibadat umat Kong Hu Cu pada situs peninggalan Cheng Ho, bukan kepercayaan Laksamada Cheng Ho. Ingat, Cheng Ho membawa misi utama yaitu berdagang dan sesekali ikut membantu memberikan solusi konflik di wilayah-wilayah yang mereka lewati, bukan misionaris layaknya pendeta-pendeta dari Eropa dengan Gospelnya. Ada juga beberapa sumber yang mengatakan bahwa awalnya Laksama Cheng Ho mendirikan masjid di dalam Goa untuknya beribadah, yang sekarang menjadi goa yang dikeramatkan terletak di belakang Klenteng agung sam Poo Kong. Namun seiring berjalannya waktu, tahun 1700an areal tersebut menjadi Klenteng. Awak Cheng Ho beberapa ada yang tinggal di Semarang (kala itu) dan beranak pinak. Untuk mengenang Laksamada, mereka memilih untuk membangun Klenteng disitu. Banyak cara untuk mendoakan orang lain, salah satunya adalah yang dilakukan oleh cucu-cucu mantan awak kapal Cheng Ho dan warga Kong Hu Chu disana. Meskipun Cheng Ho adalah seorang Muslim, bukan berarti awak kapalnya juga muslim loh. Inilah yang menjadi daya tarik toleransi dan akulturasi budaya yang baik. Dimana Laksaman Cheng Ho bekerja sama dengan awak kapalnya yang berbeda kepercayaan namun sanggup melaksanakan misi dagangnya.

Klenteng Dewa Bumi

Mengunjungi Klenteng Sam Po Kong rasanya kayak lagi masuk ke lokasi film-film china legendaris tahun 90an yang sempet ngehits di Indosiar pada jamannya. Aku memang suka arsitektur gaya Cina. Menurutku arsitektur mereka penuh dengan filosofi, misteri dan historis yang kuat. Aku dulu pas kecil sempet mimpi pengen jadi Putri China gara-gara kebanyakan nonton serial Putri Huan Zhu lol. Makanya disini aku tu kayak berada di Istana China gitu loh.

Pertama masuk duh, auranya Chinese banget. Masuk sudah bau dupa karena emang klenteng kan… tapi ornamen-ornamen merahnya memberi kesan elegan dan megah. Indah banget pokoknya. Aku nggak nyesel masuk sini. Aku beli tiket tembusan yang bisa masuk ke dalam. Dan akses ke semua Klenteng Jadi aku punya kesempatan untuk eksplorasi lokasi bahkan sampai di sudut-sudutnya hahahaha.

Klenteng Kyai Juru Mudi

Area Klenteng sam Po Kong sebenarnya berinti pada satu bangunan utama yaitu sebuah Goa Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya ketika mengunjungi Pulau Jawa di tahun 1400-an. Goa Aslinya tertutup longsor pada tahun 1700-an, kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Kini di dalam goa tersebut terdapat Patung Cheng Ho yang dilapisi emas dan digunakan untuk ruang sembahyang dalam memohon doa restu keselamatan, kesehatan dan rejeki. Bangunan inti goa batu tersebut, dinding luarnya dihiasi relief batu tentang perjalanan Cheng Ho dalam bentuk diorama Diorama ini mengisahkan bagaimana penjelajahan Cheng Ho di tengah lautan dan singgah di berbagai belahan dunia baik Asia maupun Afrika. Di bawahnya ada keterangan dalam Bahasa Indonesia, inggris dan Cina. Sayangnya tidak semua lengkap captionnya karena rusak. Tidak semua orang boleh masuk disini. Karena memang gedung ini dikeramatkan dan yang boleh masuk hanyalah warga Kong Gu chu yang memang niat berdoa. Jadi kalau mau foto-foto disini, tahan dulu dan mending cari spot lain deh.

Klenteng Sam Poo Tay Djien

Ada empat Klenteng di Klenteng Sam Poo Kong yang bisa dikunjungi, yaitu Klenteng Dewa Bumi, Klenteng Kyai Juru Mudi, Klenteng Sam Poo Tay Djien, dan Klenteng Kyai Jangkar. Klenteng Dewa Bumi atau Tho Tee Kong diperuntukkan untuk Dewa Bumi bagi penganut Kong Hu Cu dan Taoisme. Umat yang beribadah di Klenteng Dewa Bumi ini biasanya mengucapkan terima kasih dan mengutarakan rasa syukur kepada Dewa Bumi yang menurut mereka telah memberikan rejeki seperti tanah yang subur, panen yang melimpah dan kekayaan bumi yang beraneka ragam.

Kedua adalah Klenteng Kyai Juru Mudi. Klenteng ini dipersembahkan sebagai tempat untuk menyemayamkan arwah wang Ji Hong, Awak Kapal Juru Kemudi armada Cheng Ho yang sakit dalam perjalanan dan tidak sanggup melanjutkan perjalanan bersama awak kapal Cheng Ho yang lain. Jadi sang Wang Ji Hong ini sakit dan meninggal di Indonesia dan untuk mengenalnya dibuatlah Klenteng ini. Konon, umat muslim juga bisa berziarah di makam ini karena Wang Ji Ho dipercaya adalah seorang muslim seperti laksamadanya.

Klenteng Kyai Jangkar

Klenteng yang paling besar adalah Klenteng Sam Poo Tay Djien atau sering disebut juga Klenteng Sam Poo Kong. Semua kegiatan sembahyang umat kong guchu diselenggarakan disini, mulai dari imlek sampai cap go meh.

Di Klenteng terakhir ada Klenteng Kyai Jangkat disinilah jangkar kapal Cheng Ho disimpan dan dikeramatkan, sebagai tanda penghormatan kepada sang laksamana. Di klenteng ini tersimpan jangkar asli kapal Cheng Ho yang dibalut kain warna merah. Di Klenteng ini juga digunakan untuk sembahyang arwah Ho Ping, yaitu mendoakan arwah yang tidak bersanak keluarga dan mungkin belum mendapat tempat di alam baka. Di sebelah Klenteng Kyai Jangkar ada makam Mbah Kyai Tumpeng. Mbah Tumpeng ini adalah juru masak armada Cheng Ho. Di depan Klenteng Kyai Jangkar, ada pohon rambat yang besar sekali diatas kapal batu Sam Po Kong yang usianya sekitar 600 tahun. Pohon tersebut dipercaya

Pohon rambat yang dipercaya sebagai penjelmaan tali jangkar armada Cheengho

adalah pohon penjelmaan dari tali atau rantai pengikat jangkar karena bentuknya yang mirip sekali dengan tali jangkar atau rantai jangkar dan merambat/menjalar ke pepohonan sekitar anjungan kapal batunya. Unik sekali memang.

Di halaman yang cukup luas di depan Klenteng sam Poo Kong, Kyai Juru Mudi dan Dewa bumi, terdapat sejumlah patung, termasuk patung Laksamana Cheng Ho yang paling besar, yang konon pembuatannya patung tersebut diselimuti perunggu. Di halaman luas inilah diselenggarakan pelbagai atraksi kesenian seperti pertunjukan tari, barongsai atau bentuk kesenian tionghoa lain yang digelar untuk memperngati hari hari bersejarah yang berhubungan dengan Cheng Ho atau budaya China seperti imlek atau cap go meh.

Toko Oen

Toko “OEN” adalah satu dari sedikit restoran di Indonesia yang masih dikelola oleh keluarga pendirinya. Kira-kira pada tahun 1910, Ny. Liem Gien Nio (“Oma Oen”) membuka sebuah toko kue kering di Yogyakarta dengan nama Toko “OEN”, diambil dari nama suaminya, Oen Tjoen Hok (“Opa Oen”). Pada tahun 1922, toko kue kering ini dikembangkan dengan menambah fasilitas salon es krim dan restoran. Resep restoran mengikuti citarasa dapur Indonesia, Cina, dan Belanda. Pada tahun 1934 dibukalah cabang di kota Jakarta (dahulu masih bernama Batavia) dan kota Malang. Cabang Jakarta ditutup pada tahun 1973 dan gedung diambil alih oleh Algemene Bank Nederland (ABN) yang kemudian direnovasi menjadi perkantoran. Gedung yang dipakai oleh Toko “OEN” Cabang Malang diambil alih oleh pemilik baru. Gedung ini sampai sekarang tetap difungsikan sebagai restoran dengan nama dagang Toko “OEN”, tetapi tanpa ijin dari pemegang hak paten nama Toko “OEN”. Sekitar 1935, Opa Oen membuka cabang di Semarang. Gedung yang dipakai dahulunya adalah sebuah grillroom yang dioperasikan oleh seorang berkewarganegaraan Inggris. Gedung ini berlokasi di Jalan Bodjong no. 52 (kini Jalan Pemuda). Sejak 1936 beroperasilah Toko “OEN” Semarang.

Saat ini hanya tersisa Toko “OEN” di Semarang yang masih memegang resep asli dari Oma Oen. Di sini masih disajikan bermacam sajian Belanda yang terinspirasi dari gaya kolonial: uitsmijter, huzarensalade, kaasstengels, dan lain sebagainya. Untuk melengkapi kesan nostalgia, dan terutama buat penggemar wisata kuliner, tidak sedikit orang datang ke Semarang dari jauh untuk menikmati tutti-frutti. (sumber)

Oen’s Symphony Ice Cream

Aku kesini sekitar jam 11-an. Semarang udah panas dan terik banget sampai bener-bener ga tahan haus pengen makan atau minum yang seger-seger. Sengaja aku mampir ke Toko Oen karena sejarahnya dan rekomendasi menu Oen’s Symphony Ice Cream yang banyak di review baik di internet. Tempat Toko Oen ini emang klasik dan jadul banget. Tapi sebenernya justru tempat-tempat yang kayak gini yang bikin aku senang. Berasa balik ke Jaman Belanda haha. Dari luar tu kayak kecil tapi pas masuk, tempatnya lega banget. Disini ga pake ac, cuman pakai kipas angin tapi beneran sejuk banget deh. Pas dateng kerasa banget sih yang jadi konsumennya bukan orang sembarangan. Pelanggan setia Toko Oen yang ada disana waktu itu kebanyakan keluarga Peranakan atau para pengusaha yang lagi transaksi atau ngomongin bisnis. Untungnya aku ga merasa asing sih, karena mas-mas waiter nya langsung menyambut dengan senyum ganteng dan tanya kebutuhanku. Sangat professional dan berasa di lingkungan elite. Aku langsung duduk di sudut dan mulai membaca menu-menu. Aku agak lama kalau baca menu jadi si mas waiter langsung tahu situasi dan bilang “jika butuh sesuatu, panggil saja ya”.

Aku pesan Oen’s Symphony Ice Cream donk. Karena emang katanya ini enak dan top demand. Harganya agak mahal sih sekitar 38 ribu untuk 3 scoop es krim. Rasanya? Enak. Beda dari es krim susu kebanyakan. Sirupnya manis dan memang seger banget sih asli. Aku habisin 3 scoop dan udah kenyang aja rasanya hehe. Next time ingin kesini lagi tapi nyobain menu tutti frutti dan Napolitaine Ice Cream nya.

Kota Lama Semarang

Gereja St. Immanuel

Kota Tua Semarang merupakan suatu kawasan di Semarang yang menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20an . Pada masa itu, untuk mengamankan warga dan wilayahnya, dibangunlah benteng Vijhoek. Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang dibenteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya yaitu Heeren Straat yang kini bernama Jl. Let Jen Soeprapto. Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok, yang disebut De Zuider Por. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 hektar. kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan “Little Netherland” di Semarang. Kawasan ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Sayangnya ketika aku berkunjung kesana, tidak banyak informasi yang bisa didapatkan tentang historis gedung-

Gereja Blenduk

gedung dan bangunan ini. Yang paling ikonik yang aku lihat adalah Gereja GPIB Immanuel Semarang atau yang biasa disebut Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) oleh warga sekitar. Ini adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada tahun 1753. Bentuk gerejanya tergolong unik karena berbentuk heksagonal. Kubah gereja ini tergolong besar, dilapisi dengan perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya pun dibuat berdasarkan salib Yunani. Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini.

Ikon kota lama Semarang lain adalah gedung Spiegel. Pada Tahun 1895, dulunya ini adalah sebuah gedung yang ditempati oleh sebuah perusahaan bernama N.V Winkel Maatschappij “H Spiegel”. N.V. adalah singkatan dalam bahasa belanda dari kata Naamloze Vennootschap yang kalau sekarang istilahnya adalah Perseroan Terbatas (PT).

Gedung Spiegel

Sedangkan Winkel Maatschappij kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris berarti Shop Society. Jadi mungkin kalau jaman sekarang itu mungkin namanya PT Perkumpulan Toko. Hehe. Nama H. Spiegel dari kata Spiegel ini sendiri artinya adalah Cermin. Kenapa Cermin? Ya tanya saja lah sama si pak Spiegel. (udah mati tapi jek). Perusahaan ini dulunya adalah sebuah toko yang menyediakan berbagai macam barang baik keperluan rumah tangga atau keperluan kantor dengan model terbaru. Beberapa barang yang disajikan antara lain adalah tekstil dari kapas atau lenin, keperluan rumah tangga (mungkin termasuk cermin), mesin ketik, furniture, meubel, keperluan olah raga dan sebagainya. Jadi kayak toserba gitu kali ya. Nah, seperti disebutkan tadi bahwa perusahaan ini pertama kali dibangun pada tahun 1895 oleh Tuan Addler. Kemudian Tuan H. Spiegel diangkat menjadi manajer perusahaan ini. Lima tahun kemudian, Tuan H. Spiegel menjadi pemiliknya. Pada tahun 1908 perusahaan ini menjadi perusahaan terbatas (PT). Keadaan bangunan kuno ini dulu sempat kurang terawat, sedangkan fungsi bangunan sempat dialihkan menjadi gudang hingga dilakukan renovasi pada 8 Juni 2015, setelah dilakukan restorasi yang cukup lama gedung ini digunakan sekarang sebagai cafe dan resto. Spiegel kini sudah bukan PT perusahaan toserba tapi menjadi Spiegel Bar & Bistro.

Gedung Marba

Ikon lain dari Kota Lama adalah Gedung Marba. Gedung ini pertama kali dibangun sekitar abad ke-19 oleh Marta Badjunet. Beliau adalah seorang warga negara Yaman dan saudagar kaya pada masa itu. Untuk mengenang jasanya maka bangunan itu dinamai singkatan namanya MARBA. Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Selain kantor, gedung Marba juga sempat digunakan untuk toko yang modern dan satu-satunya pada waktu itu, yaitu toko De Zeikel. Sayangnya hingga saat ini gedung kuno yang muat akan nilai historis dan arsitektur eksotik ini tidak memiliki aktivitas dan hanya digunakan sebagai gudang.

Selain ketiga bangunan ikonik Kota Lama Semarang tadi, aku menemukan satu spot unik yang lagi instagramable banget, rumah akar. Terletak di kawasan kota lama, gedung ini unik karena terdapat pohon yang menempel pada dinding rumahnya.

Rumah Akar

Kota Lama sangat menarik dan sarat akan nilai historis. Sayangnya kota lama semarang menurutku masih butuh perawatan dan pemugaran yang baik. Masih banyak gedung-gedung yang kayak dibiarin aja jadi kesannya surem dan sangup. Ini mending ya siang-siang ngunjunginnya. Kalau malam gimana? Menurutku bangunan-bangunan tuanya patut dipertahankan, butuh dirawat saja tapi jangan sampai mengubah wajah aslinya seperti yang dilakukan pada Gedung Spiegel. Setelah oke dan layak digunakan, tempatnya bisa dipakai untuk café, butik, museum. Karena jujur banget kalau aku kesini tu rasanya kayak balik ke Eropa, minus cinderung mati, suram, bisu dan kurang terawat. Tapi asyiknya melihat bangunan-bangunan tua nan kosong ini jadi bikin khalayanku balik ke masa lalu, aku langsung membayangkan jaman dulunya tempat ini dipakai buat apa, apa dan apa. Entahlah, aku kayak déjà vu dan ini asyik banget.

Warung Makan Asem-Asem Koh Liem
Habis makan es krim di Toko Oen, memang kenyang tapi ga sampai 1,5 jam perut udah keroncongan lagi. Ya sebenernya karena emang belum makan siang kan. Kalau baca-baca di internet, salah satu kuliner rekomendasi di Semarang adalah Warung Makan Asem-Asem Koh Liem. Awalnya agak takut sih karena di warung makan ini juga menyediakan menu babi. Cuman karena di beberapa review bilang kalau asem-asem dagingnya adalah daging sapid an halal, aku merasa aman saja.

Asem-Asem Daging Koh Liem

Pas sampai disana, tempatnya ramai. Tapi tentu saja yang makan kebanyakan warga peranakan. Hehe. Aku sampai takut masuk ntar dikira asing lagi gitu. Kalau di Toko Oen aku masih liat ada mbak-mbak berjilbab makan, disini nggak ada sama sekali. Aku jadi was-was bener. But anyway biarpun mereka warga peranakan dan terkesan eksklusif tapi kan mereka juga warga Indonesia, dan seharusnya aku ga pelu khawatir. Dan karena ini sudah niat ya udah lah ya, muka tembok aja Allahu Alam. Sampai disana aku langsung pesan menu asem-asem daging. Si pelayan pun langsung sigap karena mungkin memang ini menu andalan jadi langsung cekatan aja. Ketakutanku akan jadi orang asing disana pun tidak terbukti, karena aku duduk berdekatan dengan emak-emak peranakan bersama anak dan menantunya dan mereka ini amat sangat ramah. Mereka senyum duluan, mereka tanya-tanya aku darimana, udah kemana aja dan udah nyobain apa aja. Malahan aku dapat banyak informasi dari keluarga ini. Seneng banget rasanya. Ga lama ngobrol-ngobrol menu pun siap di hidangkan. Untuk rasanya? Cinderung manis dan tidak sesegar bayanganku. Kalau boleh jujur sebenarnya masih lebih enak asem-asem daging khas Blora. Dan sebenarnya ada satu yang membuat aku tidak nyaman. Aroma pengus daging dari dapurnya. Mungkin hanya sugestiku saja karena jujur aku sih nggak bisa bedain pengus kambing sama babi, tapi aromanya bener-bener bikin mual dan ini faktor utama aku tidak bisa menghabiskan semangkuk menu asem-asem daging nya.

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Karena belum terlalu sore, aku pun kepikiran untuk mampir ke Lawang Sewu. Sebenernya ini bukan destinasi on the list yang mau aku kunjungi karena cerita angkernya tapi, apalah arti semarang kalau tidak mengunjungi Lawang Sewu. Aku akhirnya minta diberhentikan Bang Gojek di Lawang sewu yang tidak jauh dari Warung Makan Koh Liem. Lawang sewu yang kupikir angker dan serem ternyata pas aku kesana rame banget!! Banyak kelompok-kelompok wisata mengunjungi tempat ini kesan angker benar-benar jauh dari bangunan ini. Menurutku, Lawang Sewu sekarang lebih cantik, lebih hijau dan lebih ramai. Aku ga berasa masuk ke tempat angker. Mungkin karena rame sih, coba kalau sepi ya mungkin merinding juga karena bangunan-bangunannya yang kokoh dan menjulang angkuh.

Lawang Sewu atau yang Bahasa Indonesianya Seribu Pintu adalah salah satu gedung bersejarah di Semarang. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, atau kalau sekarang tu istilahnya PT KAI. NIS mempercayakan rancangan gedung kantor pusat NIS (Lawang Sewu) di Semarang kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda, baru kemudian gambar-gambar dibawa ke Kota Semarang. Melihat dari cetak biru Lawang Sewu tertulis bahwa site plan dan denah bangunan ini telah digambar di Amsterdam pada tahun 1903. Begitu pula kelengkapan gambar kerjanya dibuat dan ditandatangani di Amsterdam tahun 1903.

Lawang Sewu

Terus kenapa sih disebut Lawang Sewu? Aku yakin orang Belanda bangun gedung ini tidak berniat menamainya Lawang Sewu. Masyarakat setempatlah yang menamakannya Lawang Sewu. Meskipun kenyataannya Lawangnya (Pintu) tidak ada 1000 tapi gedung ini memiliki jendela yang luar biasa banyak. Kalau ditotal antara Pintu dan Jendelanya, mungkin ada 1000 hehe.

Setelah kemerdekaan, gedung ini dipakai menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang yang kita kenal PT Kereta Api Indonesia. Selain menjadi kantor DKARI, gedung ini juga pernah juga dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan, gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu pada saat berlangsungnya peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Gedung ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Menjadi salah satu ikon kota Semarang, tentunya tempat ini wajib kamu singgahi. Soal yang mistis-mistis, yah itu sih balik lagi tergantung orangnya. Aku sendiri merasa tempat ini nyaman dikunjungi (rame-rame). Selain ada live music di pelataran, tempatnya juga adem banget dan sejuk karena lebarnya pintu-pintu dan jendela. Kalau mau baca tentang sisi gelap gedung ini mendingan baca blog lain aja karena aku sendiri tak sanggup. Haha. Kesan sekarang yang ingin dibuat pemerintah Semarang adalah Lawang Sewu kaya akan nilai historis, bukan mistis.

Lumpia Mbak Lien

Toko Lumpia Mbak Lien

Menjelang sore, waktunya menikmati kudapan. Nggak ke Semarang namanya kalau tidak makan Loenpia atau Lumpia. Ya, Lumpia adalah salah satu makanan khas daerah Semarang dengan cita rasa olahan rebung yang nikmat. Selain rebung, lumpia khas semarang juga berisi telur dan tambahan special seperti daging ayam atau udang. Ngomongin Lumpia, sebenarnya lumpia adalah masakan kreasi orang keturunan tionghoa yang menikah dengan orang semarang asli dan menetap di daerah semarang. Di China makanan ini dikenal dengan nama chūn juǎn atau Spring Roll atau Long Pia dalam Bahasa Inggris. Meskipun pada dasarnya isi Lumpia ini bisa apa saja yang berupa sayur-sayuran, tapi kayaknya cuman di Semarang saja yang isinya popular dengan rebung dengan size yang lumayan mantap. Di semarang sendiri masyarakat peranakan mulai menjajakan lumpia ini pada acara-acara olahraga pada masa pemerintahan presiden Soekarno. Sejak itu Lumpia menjadi sangat terkenal di semarang seperti sekarang dan kini

Lumpia Enak Mbak Lien

menjadi makanan khas Semarang.

Nah, di Semarang, ada Lumpia Mbak Lien yang terkenal seantero kota. Letaknya sangat tidak jauh dari Toko Oen. Jalan kaki aja bisa. Meskipun letaknya ada di gang tapi tempatnya bersih dan ramai pengunjung. Lumpia Mbak Lien bisa dijadikan oleh-oleh karena makanan ini tahan sampai 2 hari. Penyajiannya bisa digoreng ataupun dikukus. Khusus untuk yang oleh-oleh aku beli di tempat lain yang tidak kalah enaknya dengan Lumpia Mbak Lien. Tapi khusus sore itu aku beli untuk konsumsi sendiri. Hehe. Lumpia Mbak Lien satunya dibanderol antara Rp. 11.000 -Rp. 13.000. Mahal untuk satu lumpia? Benar, tapi ini lumpia super gede dan enak banget jadi menurutku ini masih murah dan so so worth it. Aku pesan yang campur udang dan digoreng. Satu Lumpia aja sudah bikin aku kenyang.

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah

Setelah Maghrib, aku mampir dulu ke Masjid Agung Semarang. Yang menarik dari Masjid ini tentu adalah arsitekturnya. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini dirancang dengan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter. Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha. http://www.majt.or.id/

Pasar Semawis

Pasar Semawis

Ini nih yang bikin aku penasaran sama Semarang. Berawal dari ngebantuin temen Transkrip wawancara penelitiannya, tentang masyarakat peranakan di Semarang, aku pertama kali tahu pasar semawis. Dulu pasar semawis hanya dibuka pada saat imlek saja tapi sekarang pasar semawis dibuka setiap minggu pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu dari pukul 6 sore.

Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, adalah pasar malam di daerah pecinan Kota Semarang. Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata). Pasar Semawis menyajikan beraneka ragam hidangan di sepanjang gang Warung di area pecinan Semarang. Waktu aku kesana, beberapa jajanan sampai bikin aku bingung. Kalau sudah beraneka ragam kayak gini otomatis lah selalu buat bingung. Mulai dari pizza, takoyaki, sate, nasi bakar, es puter, dorayaki, banyak banget deh sampe pusing. Ada juga yang jualan makanan tidak halal seperti sate bakar babi tapi percaya deh, jauh lebih banyak makanan halalnya daripada haramnya buat temen-temen muslim. Area ini semakin malam semakin ramai. Yang berkunjung tidak hanya anak-anak muda tapi juga keluarga-keluarga peranakan. Aku kesana cuman beli nasi bakar, delimanjoo, dan king mango juice. Itu aja udah bikin aku kenyang banget (apalagi sebelumnya udah makan lumpia).

Day 2

Klenteng Tay Kak Sie

Klenteng Tay Kak Sie

Muslim yang baik, pagi-pagi ke Klenteng haha. Sebenarnya ini nggak sengaja karena pada awalnya memang berniat mau beli oleh-oleh aja. Nggak taunya tempat beli oleh-oleh bersebelahan langsung sama ni Klenteng. Memang daerah pecinan ini konon punya 11 Klenteng, hanya saja karena keterbatasan waktu aku nggak sanggup mengunjungi satu-satu Klentengnya. But I got the best one. Klenteng yang kupikir paling besar diantara Klenteng-klenteng tetangganya di area itu.

Klenteng Tay Kak Sie didirikan pada tahun 1746. Jadi awalnya Klenteng ini hanya untuk memuja Dewi Welas Asih, Kwan Sie Im Po Sat atau mungkin yang lebih kita kenal denga Dewi Kwan Im. Namun Klenteng ini kemudian berkembang menjadi klenteng besar yang juga memuja berbagai Dewa-Dewi Tao. Nama Tay Kak Sie tertulis pada papan nama besar di pintu masuk Klenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang (Too Kong dalam bahasa Hokkian) 1821 – 1850 dari Dinasti Qing adalah nama yang berarti “Klenteng Kesadaran Agung”.

Waktu aku kesana, sedang ada sembayang di dalam jadi aku nggak berani masuk. Aku cuman sempat foto-foto area depannya saja. Aku belum punya keberanian yang lebih jika harus masuk ke rumah peribadatan yang agak private seperti ini.

Lumpia Gang Lombok

Lumpia Legendaris Gang Lombok

Ini dia oleh-oleh lumpia yang aku maksud. Sengaja aku pilih tempat ini untuk oleh-oleh karena tempatnya sepertinya memang bukan untuk makan on the spot. Waktu kesini, gila banyak banget yang antri pesen. Rata-rata sih warga peranakan sosialita gitu hehe. Tapi kalau memang tempat ini ramai, pasti nggak salah kalau aku ke tempat ini. Memang Lumpia gang Lombok ini sudah sangat terkenal legendaris sampai-sampai si pemiliknya sekarang yang sudah generasi ke-empat sudah tidak ingat kapan tepatnya kedai ini didirikan. Seperti biasa, lumpia disajikan dengan 2 pilihan, goreng atau kukus. Saya sih tetap team goreng jadi tak usah tanya-tanya aku tetap mantap beli yg goreng. Karena satunya Rp.15.000 maka aku hanya beli 2 lumpia hahaha (kere alamak). Saking ramenya aku sampe dilayani anak si pemilik toko yang masih (kayaknya) SMP. Tapi dia udah cekatan banget (yailah, sudah gen-nya..huhu iri). Rasanya? Hmm kalau mau dibedain sama punya Mbak Lien, dua-duanya sama enaknya. Mungkin juga karena aku pas sama-sama lapar pas makan. Intinya, next time kalau untuk ngudap aku ke Mbak Lien aja tapi kalau untuk oleh-oleh mending kesini aja hahahaha.

Vihara Buddhagaya Watugong

Pagoda Avalokitesvara

Kalau tadi sudah wisata ke Klenteng-Klenteng, kini aku ke Vihara. (memang rajin sekali ni wanita solihah). Ini adalah destinasi terakhirku di Semarang. Dari dulu emang pengen banget dateng ke tempat ini karena tinggi pagoda nya yang ngingetin akan film white Snake Legend dimana si Pai Su Cen dikurung di Pagoda haha (film apaan jaman kapan yalo).

Area Vihara Buddhagaya Watugong yang mempunyai lahan seluas sekitar 2,25 hektar. Pada Kompleks ini terdapat setidaknya 5 bangunan utama dimana 2 bangunan utamanya adalah Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Dhammasala yang dibangun sekitar tahun 1955. Selain dua bangunan utama tadi yang paling ikonik, terdapat pula Monumen Watugong, patung Dewi Kwan Im, patung Buddha dan kolam teratai di sekitar pagoda. Pohon Bodhi (Ficus Religiosa) yang ada di pelataran Vihara Buddhagaya ini ditanam oleh Bhante Narada Mahathera pada tahun 1955, yaitu seorang biksu Buddha Theravada yang merupakan sesepuh di Candi Vajirarama, Kolombo.

Patung Dewi Kwan Im di dalam Pagoda

Ikon paling terkenal dari Vihara Buddhagaya tentunya adalah Pagoda Avalokitesvara atau pagoda cinta dan kasih sayang. Pagoda ini didirikan untuk menghormati Dewi Kwan Sie Im Po Sat atau yang biasa kita kenal di serial Sun Go Kong, Dewi Kwan Im. Dewi Kwan Im ini adalah dewi yang dipercaya oleh umat Buddha sebagai dewi kasih sayang. Tinggi Pagoda Avalokitesvara sekitar 45 meter, terdiri dari 7 tingkat yang menyempit ke atas. Tingkat tujuh ini memiliki makna sebagai lambing kesucian yang akan dicapai oleh pertapa setelah mencapai tingkat ke tujuh. Pagoda Avalokitesvara identik dengan perpaduan warna merah dan kuning khas bangunan, symbol keberuntungan dan kesucian pada masyarakat Cina. Pada tahun 2006, pagoda ini diresmikan oleh MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Wow luar biasa!!

Luas Pagoda Avalokitesvara yang berukuran 15 x 15 meter dan berbentuk heksagonal. Di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im berukuran 5,1 meter, serta patung Panglima We Do di sebelahnya. Di tingkat kedua hingga keenam, terdapat patung-patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Letak ini dimaksudkan agar sang dewi dapat memancarkan welas asihnya ke empat penjuru. Sedangkan di bagian puncak pagoda terdapat patung Amitabha, yaitu guru besar para dewa dan manusia. Di puncak ini juga terdapat stupa untuk menyimpan relik, yaitu mutiara Buddha. Tapi tentu saja, kita pengunjung tidak bisa naik ke puncak pagoda, soalnya di pagoda ini tidak ada tangga bagi turis untuk mengakses puncaknya. Jumlah patung yang ada di Pagoda Avalokitesvara ada sekitar 30 patung.

Pohon Bodhi

Pagoda Avalokitesvara biasa digunakan untuk ritual Tjiam Shi, atau ritual untuk mengetahui nasib umat manusia. Ibaratnya ritual untuk peruntungan lah ya. Caranya dengan menggoyangkan bamboo stick yang sudah diberi tanda sampai salah satu bambu terjatuh. Untuk membaca hasil ramalan, pengunjung bisa meminta bantuan kepada petugas yang sedang berjaga. Tapi kalau sudah menggoyang-goyangkan bambu sebanyak 3 kali dan tidak ada bambu yang terjatuh, konon katanya sih hari itu bukan hari baik untuk meramalkan nasib. Hahaha. Ya ya.

Bangunan kedua yang menyita perhatian dari Vihara Buddhagaya adalah Vihara Dhammasala. Sayangnya karena dikejar waktu jadwal Bis, aku nggak sempat ke seberang untuk mengunjungi Viharanya. Maybe next time sih.

Trip ke Semarang adalah salah satu trip yang menyenangkan. Dalam waktu singkat, aku bisa mengunjungi tempat-tempat yang memang ingin aku kunjungi. Surprisingly Semarang is friendly to me and I would love to go to that city again. Semoga saat itu Kota Lama semakin cantik dan lebih banyak wisata kuliner yang bisa dikunjungi ^^

Advertisements