Banyak orang berpikir, terutama dari kaum adam, bahwa menangis adalah symbol kelemahan seseorang. Pantang bagi mereka menangis. Bagi sebagian budaya yang ada pada masyarakat, laki-laki hanya boleh menangis 3 kali dalam hidupnya. Ketika ia lahir, ketika ibunya meninggal dan ketika orang yang dicintainya meninggalkannya. Entah dari mana pengetahuan itu datangnya. Yang pasti, dalam perspektif lain, ini menandakan bahwa menangis adalah pantangan bagi laki-laki dan menangis dekat dengan kelemahan. Dan karena perempuan adalah makhluk Tuhan yang paling sering menangis, mereka diidentifikasikan sebagai makhluk yang lemah, tidak kuat mentalnya, tidak kuat jiwanya.

Bagi saya, seorang perempuan, menangis tak lebih dari sebuah aksi untuk menolong diri saya sendiri. Menangis bukanlah sebuah kelemahan, tapi sebuah keberanian untuk meluapkan emosi. Banyak di antara kita berpikir meluapkan emosi dekat dengan aksi kemarahan, yang tentunya memberikan efek jelek bagi orang-orang di sekitar kita. Lebih baik meluapkan emosi dengan cara marah daripada dengan cara menangis. Ya, ada sebagian orang yang berpikir demikian. Bagi saya, marah adalah aksi alami jika sesuatu yang saya inginkan tidak berjalan sesuai dengan yang saya harapkan. Namun, jika marah dan kesal sudah tidak terbendung lagi, saya hanya bisa menangis. Menangis lebih membuat saya merasa lega dan lebih baik daripada marah. Memang baik keduanya tidak menyelesaikan masalah. Baik marah atau menangis tidak akan membuat masalah menjadi lebih lancar. Namun setidaknya dengan menangis, saya merasa lebih baik dan sanggup berpikir lebih baik setelahnya. Lebih daripada itu, dengan menangis, saya sanggup mengeluarkan rasa bersalah saya yang berlebihan. Ya, sebagai perempuan saya masih terbelenggu dengan perasaan selalu menyalahkan diri saya sendiri yang saya akui tidak sempurna. Sudah nasib saya tumbuh dan besar di lingkungan yang membuat saya selalu menyalahkan diri sendiri.

Masih tentang perempuan yang menangis. Bagi saya menangis adalah sebuah proses dan saya lebih senang jika melakukan proses itu sendirian. Kalau pun ada teman yang melihat saya menangis, saya lebih suka jika teman tersebut tidak melakukan apa-apa, tidak berusaha menenangkan saya. Karena menangis bagi saya adalah proses untuk menuju ketenangan itu sendiri.

Tetapi kadang saya berpikir, mengapa perempuan harus sembunyi-sembunyi jika menangis. Apakah karena stereotype publik sehingga perempuan malu jika harus menangis di depan khalayak ramai? Takut dibilang lebay dan drama? Mungkin saja. Tapi bagi saya, menangis tetaplah sebuah proses. Mau itu dilakukan secara diam-diam atau di depan orang banyak, seharusnya itu tidak menjadi masalah. Seperti halnya tertawa, seharusnya tidak ada aturan sosial yang melarang perempuan untuk menangis dimana saja. Mungkin saja aturan larangan bagi perempuan menangis di tempat umum adalah untuk mencegah orang-orang di sekitarnya merasa bersalah, dan karena dominasi laki-laki dalam sistem masyarakat juga kuat. Misalnya pada satu kasus, kehidupan rumah tangga sepasang suami istri tidak begitu baik. Suami akan melarang istrinya untuk menangis di depan banyak orang jika mereka bertengkar, karena itu akan membuat sang suami tidak enak, dan sangkaan-sangkaan negatif dari masyarakat sekitar kepada suami karena telah gagal membuat istrinya bahagia. Tentu saja itu akan merusak harga diri si suami bukan? Hal ini juga bisa terjadi dalam hubungan ayah dan anak perempuan.

Aah, kenapa selalu saja perempuan yang harus menangggung berat beban emosi sampai-sampai meluapkan emosi saja dilarang untuk dilakukan di depan umum? Tapi jika laki-laki marah-marah, disebutnya tegas, berani, dsb. Kalau perempuan yang marah-marah? Disebutnya galak, menyebalkan. Kalau luapan emosi marah-marah saja bagi perempuan di menjadi stereotype jelek, dan satu-satunya luapan yang bisa dikeluarkan adalah menangis, namun itu juga disebutnya lemah? Sampai kapan perempuan bisa bebas meluapkan rasa emosinya? Perempuan dilarang marah-marah, dilarang juga menangis. Pantas saja tingkat depresi pada kaum perempuan juga meningkat setiap tahunnya.

Kembali ke masalah menangis. Laki-laki bilang senjata perempuan adalah menangis. Laki-laki paling benci melihat perempuan menangis. Mengapa? Takut merasa bersalah? Tidak tahu harus berbuat apa? Kalau saya boleh bilang, sejujurnya perempuan tidak punya senjata apa-apa. Seperti yang saya bilang tadi, menangis hanya proses luapan emosi secara alami. Perempuan tidak butuh dikasihani jika menangis. Perempuan hanya perlu waktu untuk meluapkan emosinya. Perempuan tidak perlu laki-laki itu datang untuk membujuknya agar berhenti menangis ketika melihat sahabat perempuan, kekasih perempuannya, istrinya, anak perempuannya atau ibunya menangis. Jika memang alasan perempuan menangis adalah laki-laki, mungkin memang untuk menunjukkan betapa kecewanya terhadap laki-laki tersebut. Namun jika perempuan menangis karena keadaan yang membuat dirinya stress dan depresi yang kadang perempuan sendiri tidak tahu pemicunya apa, saking banyaknya masalah dan perasaan campur aduk yang tidak sanggup untuk dikendalikan lagi, maka menangis itu adalah cara ampuh satu-satunya untuk membuat dirinya tenang. Jadi saya bilang tangisan yang dikeluarkan perempuan bukanlah senjata, tapi obat.

Meskipun menjadi obat, namun jika frekuensi menangis perempuan menjadi tinggi. Mungkin disinilah perempuan itu butuh obat yang lain. Karena semestinya, menangis bisa melegakan. Jika satu durasi tangisan tidak cukup melegakannya. Mungkin disinilah dirinya perlu teman bicara dan berkonsultasi.

Saya percaya perempuan juga manusia yang sanggup mengendalikan emosinya. Namun dalam tingkat tertentu, pengendalian akan emosinya harus tumpah melalui tangisan. Dan itu perlu. Saya tidak akan menyuruh sesama perempuan untuk berhenti menangis. Karena menangis itu manusiawi. Menangis untuk menunjukkan bahwa kita masih manusia. Apalah yang dimiliki manusia selain otak dan emosinya? Bukankah ketika manusia lahir, sebelum dirinya mampu berbicara, dirinya sudah mampu menangis terlebih dahulu? Jika harus menangis, menangis saja. Luapan emosi perlu ditumpahkan, untuk memberi ruang bagi akal pikiran kita bekerja dengan baik setelahnya.

Ya, saya menangis lagi.

Advertisements